Niat Mandi Wajib

Ghusl (mandi) secara etimologi adalah mengalirkan air kepada sesuatu. Dan secara terminologi adalah mengalirkan air yang suci ke seluruh tubuh dengan cara yang telah ditentukan. Sementara yang dimaksud dengan mandi wajib adalah membasahi seluruh tubuh dengan air ketika seseorang dalam keadaan junub dengan niat untuk mandi wajib.

Perintah mandi wajib ini adalah berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan apabila kalian junub maka bersucilah (mandilah).” (QS. Al Ma’idah : 6)

Sebab-Sebab Mandi Wajib

Terdapat beberapa perkara yang menyebabkan seseorang, baik laki-laki maupun wanita, wajib mandi secara hukum syariat, diantaranya:

1. Keluarnya sperma (air mani) – dalam keadaan sehat- baik ketika sadar maupun tidur

Dari Ummu Salamah radhiallahu anha, dia berkata, “Ummu Salim istri Abu Thalhah radhiallahu anhumma pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi was sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila dia bermimpi?’  Maka Rasulullah shallallahu alaihi was sallam menjawab, ‘Ya, apabila dia melihat air (mani)’.” (HR. Bukhari no. 282, Muslim no. 313)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa keluarnya air mani, baik karena mimpi maupun ketika sadar, menjadi sebab diwajibkannya seorang untuk mandi. Tetapi apabila seseorang bermimpi dan tidak mendapati air mani, maka ia tidak wajib untuk mandi.

2. Hubungan intim, walaupun tanpa mengeluarkan air mani

Apabila kemaluan seorang laki-laki masuk kedalam kemaluan wanita, maka wajib mandi bagi keduanya, baik keduanya mengeluarkan air mani ataupun tidak, sesuai hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda,

“Apabila (seorang lelaki) telah duduk diantara keempat cabangnya (perempuan, dan yang dimaksud adalah kedua tangan dan kakinya) kemudian menyetubuhinya, maka wajib mandi (walaupun idak mengeluarkan air mani).” (HR. Bukhari no. 291, Muslim no. 348)

3. Haid dan Nifas

Haid dan Nifas adalah dua perkara yang menyebabkan wajibnya mandi, akan tetapi kewajiban mandi ini karena adanya suatu sebab, maka kewajiban itu tidak berlaku hingga yang menjadi penyebabnya telah terhenti (hilang)

Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam pernah bersabda kepada Fathimah binti Abu Hubaisy,

“Apabila darah haid datang maka tinggalkanlah shalat dan manakala berhenti maka mandilah dan shalatlah.”

4. Ketika orang kafir yang masuk Islam (muallaf)

Para ulama dalam permasalahan m mandi bagi orang kafir yang masuk Islam terbagi menjadi tiga kelompok, adapaun pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa orang kafir yang masuk Islam wajib mandi secara mutlak.

Pendapat ini berlandaskan beberapa dalil, salah satunya adalah dari Abu Hurairah radhiallahu anhu yang berbicara tentang keislaman Tsumamah nin Utsal, Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda kepada para sahabat :

“Bawalah dia ke kebun Bani Fulan dan suruhlah dia mandi.” (shahih. HR. Ahmad 2/304, Ibnu Khuzaimah no. 252)

5. Shalat Jum’at

Mandi untuk shalat jumat hukumnya adalah wajib, dan orang yang meninggalkannya berarti telah melakukan dosa. Ini merupakan pendapat yang paling kuat. Dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda :

“Barangsiapa dari kalian mendatangi shalat Jum’at, maka hendaknya dia mandi” (HR. Bukhari 2/6, Muslim no. 844)

Niat Mandi Wajib

Niat merupakan syarat sahnya mandi, karena mandi merupakan ibadah yang tidak dikenal kecuali melalui syariat, maka niat menjadi syarat padanya. Niat ketika hendak mandi adalah keinginan untuk melakukan mandi dalam rangka melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam.

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda :

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat.” (HR. Bukhari)

Perihal niat dalam mandi wajib, ia sama seperti dalam pelaksanaan ibadah lainnya, tempatnya adalah di hati tanpa harus dilafadzkan. Karena tidak ada riwayat yang shahih menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam melafadzkan niat dalam beberapa ibadah, termasuk ketika mandi wajib.

Maka cukuplah bagi seseorang yang hendak mandi wajib, meniatkan di dalam hati untuk mengerjakan mandi wajib dengan bahasa yang dipahami, tidak harus dalam bahasa Arab ataupun bacaan-bacaan tertentu.

Tetapi ditengah masyarakat kita beredar beberapa bacaan niat ketika hendak melakukan mandi wajib, diantaranya :

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

 “Nawaitul ghusla lirafil hadatsil abkari fardhan lillahi ta’ala”

Artinya : Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar, fardhu karena Allah Ta’ala.

Dan ada juga beberapa bentuk bacaan niat mandi wajibnya lainnya, sesuai dengan sebab dikerjakannya, misal mandi wajib karena Haid, Nifas atau hubungan intim. Maka pertanyakanlah kepada mereka yang menyeru kepada melafadzkan bacaan niat tersebut, sumber perintah melakukan hal tersebut dari mana? Apakah hal tersebut memang dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah?

Apabila dikatakan bahwa hal tersebut tidak bersumber dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, maka tidak ada kewajiban bahkan bisa masuk dalam perkara yang diharamkan bagi seorang muslim untuk mengamalkannya. Terlebih lagi ketika orang-orang tersebut menganggap wajib untuk melafadzkan bacaan niat mandi wajib tersebut. Maka ia tidak akan diterima sebagai ibadah di sisi Allah karena telah menyelisihi petunjuk Rasulullah, meskipun seluruh manusia mengamalkan ibadah tersebut.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Pembahasan Hadits-Hadit Tentang Junub : Tata Cara Mandi Junub, Athirah Mustajab
  • Doa Niat dan Tata Cara Mandi Wajib Lengkap Yang Harus Kamu Ketahui, Udy Tyas

Kategori Agama

Tinggalkan komentar